Jumat, 14 Mei 2010

Pengaruh Gaya Kepemimpinan dan EQ Kepala Sekolah terhadap Kinerja Guru di SMAN 1 Long Ikis

BAB 1
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kelahiran Undang-undang nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pada dasarnya merupakan salah satu wujud reformasi bangsa dalam bidang pendidikan sebagai respons terhadap berbagai tuntutan dan tantangan yang berkembang baik global, nasional, maupun lokal. Dalam konsideran UU tersebut dinyatakan: “bahwa sistem pendidikan nasional harus mampu menjamin pemerataan kesempatan pendidikan, peningkatan mutu serta relevansi dan efisiensi manajemen pendidikan untuk menghadapi tantangan sesuai dengan tuntutan perubahan kehidupan lokal, nasional, dan global sehingga perlu dilakukan pembaharuan pendidikan secara terencana, terarah, dan berkesinambungan. Maksudnya adalah terjadi keseimbangan yang utuh antara unsur-unsur kepribadian yang meliputi aspek intelektual, spiritual, emosional, fisik, sosial, moral, dan cultural yang nantinya bisa berjalan secara terus menerus dan berkelanjutan. Dan diharapkan kehidupan bangsa pada semua tingakatan menjadi berkualitas.
Kualitas pendidikan sangat ditentukan oleh beberapa faktor. Salah satunya adalah factor manajemen pendidikan. Dalan pendidikan manajemen itu dapat diartikan sebagai aktivitas sumber-sumber pendidikan agar terpusat dalam usaha mencapai tujuan pendidikan yang telah ditentukan sebelumnya. Dipilih menejemen sebagai aktivitas, bukan sebagai individu, agar konsisten dengan istilah administrasi dengan administrator sebagai pelaksananya dan suvervisi dengan suvervisor sebagai pelaksananya (Pidarta Made, 2004:4). Kepala sekolah misalnya bisa berperan sebagai administrator dalam mengemban misi atasan, sebagai manejer dalam memadukan sumber-sumber pendidikan, dan sebagai supervisor dalam membina guru-guru dalam proses belajar mengajar.
Dalam praktik di Indonesia, kepala sekolah adalah guru senior yang dipandang memiliki kualifikasi menduduki jabatan itu. Biasanya guru yang dipandang baik dan cakap sebagai guru mata pelajaran tertentu yang kemudian diangkat menjadi kepala sekolah. Dalam kenyataan, banyak diantaranya yang tadinya berkinerja sangat bagus sebagai guru, akhirnya menjadi tumpul setelah menjadi kepala sekolah. Umumnya mereka tidak cocok mengemban tanggung jawab manajerial.
Kepala sekolah sebagai pimpinan tertinggi sangat berpengaruh dalam menentukan kemajuan sekolah, yaitu harus memiliki kemampuan administrasi, memiliki komitmen tinggi, dan luwes dalam melaksanakan tugasnya. Kepemimpinan kepala sekolah yang baik harus dapat mengupayakan peningkatan kinerja guru melalui program pembinaan tenaga kependidikan yang berkompeten. Kompeten yang dimaksud meliputi kemampuan manajemen dan kepemimpinan, yang dilengkapi ketrampilan konseptual, insane dan teknis. Kemampuan insani tersebut antara lain kecerdasan intelegensi, kecerdasan emosional dan kepribadian yang mantap (Mantja, 2002).
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan pada tahun 2007, IQ dan EQ merupakan unsur penting dalam keberhasilan manajerial, namun kompetensi berbasis-IQ dianggap "kemampuan ambang", artinya kemampuan yang diperlukan untuk pekerjaan rata-rata. Sebaliknya, kompetensi dan
ketrampilan berbasis-EQ jauh lebih efektif. Dalam
studi perbandingan antara orang yang kinerjanya cemerlang dan yang
biasa-biasa saja pada organisasi tingkat tinggi, perbedaannya 85%
disebabkan oleh kompetensi berbasis-EQ, bukan IQ. Dr Goleman mengatakan
bahwa walaupun organisasinya berbeda, kebutuhannya berbeda, ternyata EQ
menyumbangkan 80-90% untuk memprediksikan keberhasilan dalam organisasi
secara umum.

Kinerja guru akan baik jika guru telah melaksanakan unsur-unsur yang terdiri dari kesetiaan dan komitmen yang tinggi pada tugas mengajar, menguasai dan mengembangkan bahan pelajaran, kedisiplinan dalam mengajar dan tugas lainnya, kreativitas dalam melaksanakan pengajaran, kerjasama dengan semua warga sekolah, menjadi panutan siswa, kepribadian yang baik, jujur dan obyektif dalam membimbing siswa, serta tanggung jawab terhadap tugasnya.
Namun dalam pelaksanaan tugas mendidik, guru memiliki sifat dan perilaku yang berbeda, ada yang bersemangat dan penuh tanggung jawab, juga ada guru yang dalam melakukan pekerjaan itu tanpa dilandasi rasa tanggung jawab, selain itu juga ada guru yang sering membolos, datang tidak tepat waktu dan tidak mematuhi perintah. Kondisi guru seperti itulah yang menjadi permasalahan di setiap lembaga pendidikan formal. Dengan adanya guru yang mempunyai kinerja rendah, sekolah akan sulit untuk mencapai hasil seperti yang diharapkan guru. Dengan demikian untuk mencapai hasil yang diharapkan tidak menuntut kemungkinan diperlukan gaya kememimpinan yang tepat dan memiliki kecerdasan emosional tinggi.
Berdasarkan hal tersebut, perlu diadakan penelitian dengan judul: “Pengaruh Gaya Kepemimpinan dan EQ Kepala Sekolah terhadap Kinerja Guru di SMA Negeri 1 Long Ikis Kabupaten Paser”.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat dirumuskan masalah diantaranya adalah sebagai berikut:
1. Seberapa besar pengaruh gaya kepemimpinan kepala sekolah terhadap kinerja guru di SMA Negeri 1 Long Ikis?
2. Seberapa besar pengaruh EQ kepala sekolah terhadap kinerja guru di SMA Negeri 1 Long Ikis?
3. Seberapa besar pengaruh gaya kepemimpinan dan EQ kepala sekolah terhadap kinerja guru di SMA Negeri 1 Long ikis?


C. Tujuan Penelitian
Sejalan dengan rumusan masalah yang telah ditetapkan, maka tujuan penelitian ini adalah:
1. Mengetahui besarnya pengaruh gaya kepemimpinan kepala sekolah terhadap kinerja guru di SMA Negeri 1 Long Ikis.
2. Mengetahui besarnya pengaruh EQ kepala sekolah terhadap kinerja guru di SMA Negeri 1 Long Ikis.
3. Mengetahui besarnya pengaruh gaya kepemimpinan dan EQ kepala sekolah terhadap kinerja guru di SMA Negeri 1 Long ikis.
D. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi semua pihak yang terkait untuk meningkatkan kinerja guru di SMA Negeri 1 Long Ikis Paser. Manfaat yang diharapkan adalah sebagai berikut:
1. Bagi kepala sekolah, hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi masukan dalam upaya menerapkan gaya kepemimpinan yang tepat dan meningkatkan kecerdasan emosional sehingga tercapai kinerja guru yang baik.
2. Bagi guru, hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi masukan dalam upaya memacu semangat dalam meningkatkan kinerjanya.
3. Bagi peneliti lain yang mempunyai perhatian terhadap gaya kepemimpinan dan kecerdasan emosional kepala sekolah diharapkan dapat dipakai sebagai bahan kajian untuk mengembangkan penelitian yang relevan.






BAB II
KAJIAN PUSTAKA

A. Pengertian kepemimpinan
Kepemimpinan merupakan aspek penting dalam menentukan berhasil tidaknya suatu organisasi, yakni menyangkut perilaku seorang pemimpin dalam rangka mempengaruhi para pegawai dalam rangka mewujudkan tujuannya. Vaughan dan Hogg, menyatakan bahwa kepemimpinan didefinisikan sebagai “leadership is getting other people to achieve the group’s goal”, yaitu usaha menggerakkan orang lain untuk dapat mencapai tujuan bersama. Menurut Gary Yuki ada beberapa definisi tentang kepemimpinan yang intinya adalah prilaku seorang pemimpin untuk mengarahkan, mempengaruhi, dan menjelaskan kepada bawahan, berinisiasi dan memelihara kekompakan, sikap konsisten agar setiap anggota dapat memeberikan sumbangan secara efektif kepada lembaga demi tercapainya tujuan (Sujanto Bedjo, 2007).
Dalam hal ini kepemimpinan yang dimaksud adalah kemampuan kepala sekolah dalam membina dan membimbing guru untuk melaksanakan tugasnya sebagi pendidik dan melaksanakan KBM terutama kegiatan merencanakan, melaksanakan proses pembelajaran, serta menilai dan mengevaluasi hasil pembelajaran.

B. Gaya Kepemimpinan
Upaya untuk menilai sukses tidaknya pemimpin itu perlu dilakukan, yaitu antara lain dengan mengamati dan mencatat sifat-sifat, gaya-gaya dan kualitas atau mutu perilakunya, yang dipakai sebagai kriteria untuk menilai kepemimpinannya. Blake dan Mouten berhasil mengidentifikasikan gaya-gaya kepemimpinan yang secara tidak langsung berhubungan dengan efektifitas kerja. Gaya kepemimpinan terbagi atas gaya yang efektif dan tidak efektif. Ada empat gaya kepemimpinan yang efektif, yaitu:
1) Eksekutif, gaya ini banyak memberikan perhatian pada tugas-tugas pekerjaan dan hubungan kerja.
2) Pecinta pengembangan (developer), gaya ini memberikan perhatian penuh terhadap hubungan kerja dan perhatian yang kurang terfhadap tugas-tugas.
3) Otokrasi yang baik hati (Benevolent autocrat), gaya ini memberikan perhatian yang penuh terhadap tugas dan perhatian yang kurang terhadap tugas dan perhatian yang kurang terhadap hubungan kerja.
4) Missionari, gaya ini menekankan penuh pada hubungan kerja, tetapi perhatiannya kurang terhadap tugas sekalipun perilaku yang tidak sesuai.
Sedangkan teori kesifatan atau sifat kepemimpinan dikemukakan oleh beberapa ahli. Dalam Handoko (1995: 297) Edwin Ghiselli mengemukakan 6 (enam) sifat kepemimpinan yaitu :
1) Kemampuan dalam kedudukannya sebagai pengawas (supervisory ability) atau pelaksana fungsi-fungsi dasar manajemen.
2) Kebutuhan akan prestasi dalam pekerjaan, mencakup pencarian tanggung jawab dan keinginan sukses.
3) Kecerdasan, mencakup kebijakan, pemikiran kreatif, dan daya pikir.
4) Ketegasan, atau kemampuan untuk membuat keputusan - keputusan dan memecahkan masalah-masalah dengan cakap dan tepat.
5) Kepercayaan diri, atau pandangan pada diri sehingga mampu menghadapi masalah.
6) Inisiatif, atau kemampuan untuk bertindak tidak tergantung, dan mampu mengembangkan serangkaian kegiatan dan menemukan cara-cara baru atau inofasi.
Berbagai teori kesifatan juga dikemukakan oleh Ordway Tead dan George R. Terry dalam Kartono (1992: 37). Teori sifat kepemimpinan tersebut adalah:
1) Energi jasmaniah dan mental
Yaitu mempunyai daya tahan, keuletan, kekuatan baik jasmani maupun mental untuk mengatasi semua permasalahan.
2) Kesadaran akan tujuan dan arah, mengetahui arah dan tujuan organisasi, serta yakin akan manfaatnya
3) Antusiasme, pekerjaan mempunyai tujuan yang bernilai, menyenangkan, memberikan sukses, dan dapat membangkitkan antusiasme bagi pimpinan maupun bawahan.
4) Keramahan dan kecintaan
Dedikasi pemimpin bisa memotivasi bawahan untuk melakukan perbuatan yang menyenangkan semua pihak, sehingga dapat diarahkan untuk mencapai tujuan.
5) Integritas
Pemimpin harus bersikap terbuka; merasa utuh bersatu, sejiwa dan seperasaan dengan anak buah sehingga bawahan menjadi lebih percaya dan hormat.
6) Penguasaan teknis.
Setiap pemimpin harus menguasai satu atau beberapa kemahiran teknis agar ia mempunyai kewibawaan dan kekuasaan untuk memimpin.
7) Ketegasan dalam mengambil keputusan
Pemimpin yang berhasil pasti dapat mengambil keputusan secara cepat, tegas dan tepat sebagai hasil dari kearifan dan pengalamannya.
8) Kecerdasan
Orang yang cerdas akan mampu mengatasi masalah dalam waktu yang lebih cepat dan cara yang lebih efektif.
9) Keterampilan mengajar
Pemimpin yang baik adalah yang mampu menuntun, mendidik, mengarahkan, mendorong, dan menggerakkan anak buahnya untuk berbuat sesuatu.
10) Kepercayaan
Keberhasilan kepemimpinan didukung oleh kepercayaan anak buahnya, yaitu percaya bahwa pemimpin dengan anggota berjuang untuk mencapai tujuan.

C. Kecerdasan Emosional (Emosion Quotiont).
Setiap individu memiliki emosi. Emosi mempunyai ranah tersendiri dalam bagian hidup individu. Seseorang yang dapat mengelola emosinya dengan baik, artinya emosinya cerdas hal ini lebih dikenal dengan suatu istilah Kecerdasan Emosional. Beberapa ahli mencoba merumuskan definisi dari kecerdasan emosional. Diantaranya Arief Rahman yang menyebutkan bahwa kecerdasan emosional adalah metability yang menentukan seberapa baik manusia mampu menggunakan keterampilan-keterampilan lain yang dimilikinya, termasuk intelektual yang belum terasah.
Bar-On seperti dikutip oleh Stein dan Book mengemukakan bahwa kecerdasan emosional adalah serangkaian kemampuan, kompetensi dan kecakapan non-kognitif, yang mempengaruhi kemampuan seseorang untuk berhasil mengatasi tuntutan dan tekanan lingkungan. Dua definisi tentang kecerdasan emosional yang dikemukakan oleh Rahman dan Bar-On lebih menekankan pada hasil yang didapat oleh individu jika menggunakan kemampuan emosionalnya secara optimal. Salovey dan Mayer dikutip oleh Stein dan Book mengemukakan bahwa kecerdasan emosional adalah kemampuan untuk mengenali perasaan, meraih dan membangkitkan perasaan untuk membantu fikiran, memahami perasaan dan maknanya serta mengendalikan perasaan secara mendalam sehingga membantu perkembangan emosi dan intelektual.
Goleman dalam Nanang Kosim mengatakan bahwa kecerdasan emosional adalah kemampuan untuk mengenali perasaan kita sendiri dan perasaan lain, kemampuan memotivasi diri sendiri dan kemampuan mengelola emosi dengan baik pada diri sendiri dan dalam hubungan dengan orang lain. Dari beberapa defenisi para ahli di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa kecerdasan emosional adalah suatu kemampuan yang dimiliki oleh individu untuk dapat menggunakan perasaannya secara optimal guna mengenali dirinya sendiri dan lingkungan sekitarnya.
Kecerdasan emosional yang dimaksudkan oleh peneliti adalah kemampuan individu untuk mengenali perasaannya sehingga dapat mengatur dirinya sendiri dan menimbulkan motivasi dalam dirinya dan orang lain untuk meningkatkan kualitas hidupnya. Sementara di lingkungan sosial ia mampu berempati dan membina hubungan baik terhadap orang lain.

D. Kinerja Guru
Guru memiliki tugas sebagai pendidik dan pengajar. Yang dimaksud adalah guru untuk membantu orang tua dalam memenuhi kebutuhan untuk memberi bekal pada anak-anak agar memperoleh kehidupan yang layak setelah mencapai kedewasaannya kelak. Kemudian guru seharusnya dapat menjalankan fungsinya, diantaranya mengajar (teaching) yaitu memindahkan ilmu pengetahuan, pelatihan (training) yaitu membimbing keterampilan tertentu dan coaching yaitu memberdayakan potensi individu dari masing-masing siswa yang menjadi anak didiknya. Karena guru bergerak di bidang pendidikan dan pengajaran, maka tujuan yang ingin dicapai adalah tujuan dari pendidikan dan pengajaran tersebut.
Dengan demikian kinerja guru dapat dilihat dari perbuatan atau kegiatan belajar mengajar di dalam kelas, seperti yang dikemukakan oleh Aldag dan Stearns, kinerja adalah seperti pengambilan keputusan pada waktu mengajar di kelas.
Menurut Suryo Subroto yang dimaksud dengan kinerja guru dalam proses belajar mengajar adalah kesanggupan atau kecakapan para guru dalam menciptakan suasana komunikasi yang edukatif antara guru dan peserta didik yang mencakup suasana kognitif, afektif dan psikomotorik sebagai upaya mempelajari sesuatu berdasarkan perencanaan sampai dengan tahap evaluasi dan tindak lanjut agar mencapai tujuan pengajaran.
Kinerja guru juga dapat diartikan sebagai prestasi kerja guru untuk meraih prestasi antara lain ditentukan oleh kemampuan dan usaha. Prestasi kerja guru dapat dilihat dari seberapa jauh guru tersebut telah menyelesaikan tugasnya dalam mengajar dibandingkan dengan standar-standar pekerjaan. Kemudian kinerja guru dapat diartikan pula sebagai suatu pencapaian tujuan dari guru itu sendiri maupun tujuan pendidikan dan pengajaran dari sekolah di tempat guru tersebut mengajar. Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa kinerja adalah kemampuan kerja seseorang yang diwujudkan dalam tingkah laku yang ditampilkan. Apresiasi pemahaman serta kemampuan bertingkah laku sesuai harapan dapat diidentifikasikan sebagai faktor kerja, kemampuan kerja yang tinggi atau rendah dapat terlihat dari apa yang telah dicapai dan prestasi yang diperoleh dalam suatu pekerjaan.
Dengan demikian yang dimaksud dengan kinerja guru dalam penelitian ini adalah sebagai keberhasilan guru dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar yang bermutu, meliputi aspek: kesetiaan dan komitmen yang tinggi pada tugas mengajar, menguasai dan mengembangkan metode, menguasai bahan pelajaran (Suryo Subroto,1997) dan menggunakan sumber belajar, bertanggung jawab memantau hasil belajar mengajar, kedisiplinan dalam mengajar dan tugas lainnya, kreativitas dalam melaksanakan pengajaran, melakukan interaksi dengan murid untuk menimbulkan motivasi, kepribadian yang baik, jujur dan obyektif dalam membimbing siswa, mampu berfikir sistematis tentang apa yang dilakukannya, dan pemahaman dalam administrasi pengajaran.

E. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kinerja Guru
Payaman J. Simanjuntak menyebutkan bahwa kinerja setiap orang dipengaruhi oleh banyak faktor, diantaranya sebagai berikut:
1) Kompetensi Individu
Kompetensi individu adalah kemampuan dan keterampilan melakukan kerja. Kompetensi setiap orang dipengaruhi oleh beberapa faktor yang dapat dikelompokkan dalam dua golongan, yaitu; pertama, kemampuan dan keterampilan kerja. Kedua, motivasi dan etos kerja. Secara psikologis, kemampuan (ability) pegawai terdiri dari kemampuan potensi (IQ) dan kemampuan reality (Knowledge + skill). Artinya pegawai yang memiliki IQ di atas rata-rata (IQ 110-120) dengan pendidikan yang memadai untuk jabatannnya dan terampil mengerjakan pekerjaan sehari-hari maka ia akan lebih mudah mencapai kinerja yang diharapkan. Pendidikan dan pelatihan merupakan bagian dari investasi sumberdaya manusia (human investment). Semakin lama waktu yang digunakan seseorang untuk pendidikan dan pelatihan, semakin tinggi kemampuan atau kompetensinya melakukan pekerjaan, dan dengan demikian semakin tinggi kinerjanya.
2) Dukungan organisasi.
Kinerja setiap orang juga tergantung pada dukungan organisasi dalam bentuk pengorganisasian, penyediaan sarana dan prasaran kerja, pemilihan teknologi, kenyamanan lingkungan kerja, serta kondisi dan syarat kerja.
3) Dukungan manajemen.
Kinerja setiap orang sangat tergantung pada kemampuan manajerial para manajemen atau pimpinan, baik dengan membangun sistem kerja dan hubungan industrial yang aman dan harmonis, maupun dengan mengembangkan kompetensi pekerja, demikian juga dengan menumbuhkan motivasi dan memobilisasi pegawai untuk bekerja secara optimal.
Sedangkan menurut PP RI No.19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan menyebutkan bahwa kemampuan (ability) guru sebagai salah satu faktor yang mempengaruhi kinerja dalam mencapai keberhasilan proses belajar mengajar mencakup empat macam, meliputi:
1) Kemampuan Pribadi
Kemampuan pribadi adalah kemampuan guru dalam melaksanakan proses belajar mengajar. Cece Wijaya dan Tabrani Rusyan merinci kemampuan pribadi guru meliputi:
a) Kemantapan dan integrasi pribadi
b) Peka terhadap perubahan dan pembaharuan
c) Berfikir alternatif
d) Adil, jujur, dan objektif
e) Disiplin dalam melaksanakan tugas
f) berusaha memperoleh hasil kerja yang sebaik-baiknya
g) Simpatik, menarik, luwes, dan bijaksana
h) berwibawa
Lembaga Kajian Pendidikan Keislaman dan Sosial (LeKDiS), Standar Nasional Pendidikan,
(Ciputat: Han.s Print, 2005)
Kemampuan pribadi menjadikan guru dapat mengelola dan berinteraksi secara baik serta mengelola proses belajar mengajar. Guru juga harus mempunyai kepribadian yang utuh karena bagaimanapun gurumerupakan suri tauladan bagi anak didiknya.
2) Kemampuan professional
Kemampuan profesional adalah kemampuan dalam penguasaan akademik yang diajarkan dan terpadu dengan kemampuan mengajarnya sekaligus, sehingga guru memiliki wibawa akademis.
3) Kemampuan Sosial
Kemampuan sosial adalah kemampuan yang berhubungan dengan bentuk partisipasi sosial seorang guru dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat tempat ia bekerja, baik secara formal maupun informal, meliputi:
a) Terampil berkomunikasi dengan peserta didik
b) Bersikap simpatik
c) Dapat bekerjasama dengan guru bimbingan konseling
d) Pandai bergaul dengan kawan sejawat dan mitra pendidikan.
4) Kemampuan Pedagogik
Kemampuan pedagogik adalah kemampuan mengelola pembelajaran peserta didik yang meliputi pemahaman peserta didik, perancangan dan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi hasil belajar, dan pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya.
Dengan demikian, guru sebagai makhluk yang dibekali potensi kemampuan tertentu, dan untuk mengaplikasikan serta mengembangkan kemampuan tersebut diperlukan suatu latihan dan pendidikan. Guru harus memiliki kompetensi dan profesional dalam bidangnya, maka ia memiliki kriteria-kriteria seperti yang dijelaskan di atas.

BAB III
METODOLOI PENELITIAN

A. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh antara Gaya kepemimpinan dan kecerdasan emosional (EQ) dengan kinerja guru di SMA Negeri 1 Long Ikis.
B. Tempat dan Waktu penelitian
1. Tempat penelitian
Lokasi yang dijadikan tempat penelitian adalah di SMA Negeri 1 Long Ikis Kabupaten Paser.
2. Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan antara bulan Februari sampai dengan Maret 2011.

C. Metode Penelitian
1. Jenis penelitian
Pada penelitian ini penulis menggunakan metode penelitian korelasional. Penelitian korelasional merupakan penyelidikan terhadap tingkatan variabel-variabel yang dihubungkan dan mencari arah hubungan tersebut (Susilo, 2010).
Jenis korelasi yang digunakan terdiri dari dua variabel bebas yaitu gaya kepemimpinan (variable X1) dan kecerdasan emosional (variabel X2) dengan variabel terikatnya yaitu kinerja guru (Y).
2. Populasi Dan Sampel Penelitian
Populasi adalah kumpulan dari seluruh elemen atau individu-individu yang merupakan sumber infomarsi dalam suatu penelitian (Soetriono,2007). Populasi yang digunakan adalah semua guru SMA negeri 1 Long Ikis. Berdasarkan data sekolah, diketahui jumlah guru SMA Negeri 1 Long Ikis keseluruhan berjumlah 37 orang.
Dengan data tersebut di atas, maka teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini yaitu dengan cara purposive sampling. Purposive sampling artinya adalah penarikan sampel dilakukan atas dasar pengetahuan dan pertimbangan pribadi peneliti (Anggoro Toha, 2008). Dalam hal ini adalah atas dasar pertimbangan administrasi, tempat dan waktu. Dengan pertimbangan tersebut maka jumlah sampel sama dengan jumlah populasinya.

D. Prosedur Pengumpulan Data
1. Dokumentasi
Dalam hal ini metode dokumentasi digunakan untuk mengetahui jumlah guru, presensi guru, serta data tentang kondisi sekolah.
2. Kuesioner
Jenis kuesioner yang digunakan adalah bentuk skala likert, yaitu skala untuk mennanyakan persetujuan atau penolakan. Skala kuesioner terdiri dari , gaya kepemimpinan dan kecerdasan emosional serta kinerja guru.
Instrumen gaya kepeimpinan, kecerdasan emosional dan kinerja guru disusun berdasarkan indikator-indikator yang berkaitan. Setiap item diberikan 4 (empat) alternatif jawaban yaitu: selalu, sering, kadang-kadang, tidak pernah, dengan rentangan skor 1-4. Pemberian skor diberikan untuk pernyataan positif setiap jawaban (SL) diberi skor 4, (S) diberi skor 3, (KD) diberi skor 2, (TP) diberi skor 1, untuk pernyataan negatif sebaliknya yaitu, jika jawaban (SL) diberi skor 1, (S) diberi skor 2, (KD) diberi skor 3, (TP) diberi skor 4.
3. Observasi atau pengamatan,
Penulis mengadakan pengamatan langsung ke sekolah khususnya guru SMA Negeri 1 Long Ikis untuk mendapatkan gambaran konkrit tentang kinerja guru. Teknik ini dilakukan hanya untuk memperkaya data yang telah didapat.
E. Teknik Analisis Data
Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis kuantitatif, dan penafsiran data yang digunakan adalah regresi dan korelasi berganda dengan taraf signfikasi α = 0,05. Korelasi berganda berfungsi untuk mencari besarnya hubungan dan kontribusi dua variable bebas (X) atau secara simultan (bersama-sama) dengan vareiabel terikat (Y). Rumus Korelasi Ganda sebagai berikut: (Riduwan,dkk,2009 : 86)


Selanjutnya untuk mengetahui signifikasi korelasi ganda di cari dengan: F =
Ket:

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar